NEWS TNG– Sering dengar kalimat, "Jangan ngeluh sama kerjaanmu, di luar sana banyak yang nganggur pengen posisi kamu"? Kata-kata ini kayaknya relate banget sama kondisi kita sekarang. Mencari pekerjaan di tengah ekonomi yang serba tidak pasti memang bukan perkara mudah.
Saking sulitnya, banyak dari kita yang terpaksa bertahan di lingkungan kerja yang toxic atau dengan beban pekerjaan yang bikin burnout. Nah, dari kondisi inilah muncul fenomena yang disebut "job hugging."
Apa Itu Job Hugging?
Job hugging itu tren di mana kita "memeluk" erat pekerjaan yang ada, meskipun kadang bikin stres atau nggak nyaman. Bukan karena cinta, tapi lebih karena rasa aman di tengah ketidakpastian. Kita bertahan demi stabilitas finansial dan menghindari risiko jadi pengangguran.
Menurut Jennifer Schielke, CEO Summit Group Solutions, fenomena ini makin menjamur setelah pasar tenaga kerja melambat dan kekhawatiran ekonomi meningkat. Gelombang PHK pasca-COVID-19 memperburuk rasa tidak aman di pasar kerja. Ia bahkan menyebut job hugging ini menciptakan "fantasi loyalitas," padahal sebenarnya adalah stagnasi.
Kenapa Kita Terjebak Job Hugging?
Pasti ada alasannya kenapa kita betah (atau terpaksa betah) di zona nyaman ini, kan? Para ahli, seperti Guru Besar UGM, bilang kalau ketidakpastian pasar kerja jadi pemicu utamanya. Lulusan perguruan tinggi misalnya, lebih baik asal kerja daripada jadi "pengangguran intelektual."
Namun, semua alasan itu sebenarnya hanya permukaan saja. Ada akar masalah yang jauh lebih dalam dan bersifat sistemis yang bikin fenomena job hugging ini makin merajalela.
Akar Masalah Sistemis: Kapitalisme Global
Fenomena job hugging yang makin banyak ini bermula dari dampak kapitalisme global yang gagal menjamin pekerjaan bagi rakyatnya. Sistem ini menciptakan posisi superior dan inferior di dunia kerja. Pihak swasta, dengan industri yang masif, jadi superior karena lebih banyak merekrut pekerja dibanding usaha milik negara.
Dengan pola seperti ini, pihak swasta seolah mengambil alih kewajiban negara untuk menyediakan lapangan kerja. Negara malah melegalkan sumber daya pada segelintir kapitalis, yang kemudian jadi modal raksasa mereka menciptakan industri. Sayangnya, banyak industri ini menerapkan kebijakan zalim: upah minim, beban kerja berat, dan PHK kapan saja.
Belum lagi, praktik ekonomi non-riil dan ribawi juga terjadi pada sistem kapitalisme. Sistem ini berpusat pada keuntungan, dan sektor non-riil seperti pasar saham menawarkan peluang keuntungan tinggi dengan cepat, meski tidak berhubungan langsung dengan produksi barang dan jasa. Sektor ini bisa menciptakan "gelembung ekonomi" yang meningkatkan harga aset secara tidak rasional dan menjadi salah satu penyebab krisis keuangan.
Dampak lain dari adanya sektor ekonomi non-riil adalah minimalnya serapan tenaga kerja. Karena tidak berfokus pada dihasilkannya produk berupa barang atau jasa, pertumbuhan ekonomi pun terhambat. Ini berarti lebih sedikit lapangan kerja yang tercipta untuk kita.
Sistem kapitalisme global juga berimbas pada pendidikan dan kualitas tenaga kerja. Meskipun kurikulum perguruan tinggi disiapkan agar adaptif dengan dunia kerja, prinsip liberalisasi perdagangan (termasuk jasa) membuat negara seolah lepas tangan dalam memastikan warganya bisa bekerja. Maka, jangan heran kalau banyak sarjana yang menganggur atau bekerja tidak sesuai bidangnya.
Dengan begitu dahsyatnya dampak yang ditimbulkan dari kapitalisme global, perekonomian kita jadi makin krisis. Wajar saja kalau terjadi "banjir" job hugging, sebab seseorang tetap butuh pekerjaan demi memenuhi kebutuhan hidup yang biayanya terus meroket. Mereka tak peduli meski tertekan secara mental dan fisik, karena jika pekerjaan dilepaskan, risiko sangat berat akan dihadapi: kesulitan mendapatkan pekerjaan baru dan kesulitan membiayai hidup.
Potret Gelap Dunia Kerja Saat Ini
Inilah kiranya potret gelap yang terjadi di dunia kerja kita. Selama kapitalisme masih menjadi hegemoni, fenomena job hugging tak akan berhenti. Jaminan pekerjaan untuk rakyat tak akan tercapai. Pekerja pun akan terus menghadapi tekanan, baik fisik maupun mental, akibat terpaksa bertahan dari beban kerja yang berat atau lingkungan kerja yang tak sehat demi memenuhi kebutuhan hidup.
Solusi Jitu Atasi Job Hugging: Perspektif Islam
Lalu, adakah jalan keluar dari lingkaran setan job hugging ini? Tentu ada! Solusinya harus sistemis agar bisa menyelesaikan masalah dari akarnya, dan Islam menawarkan jawabannya. Solusi yang diberikan oleh Islam dalam mengurai problem job hugging di antaranya adalah:
1. Peran Negara sebagai Penanggung Jawab Utama
Dalam Islam, negara punya peran sentral sebagai "pelayan" rakyat. Artinya, negara wajib menjamin ketersediaan lapangan kerja yang layak bagi setiap warganya. Hal ini terdapat pada Kitab Muqaddimah ad-Dustur pasal 153. Pasal ini secara umum menekankan tanggung jawab negara dalam menjamin ketersediaan lapangan kerja bagi warganya yang lemah atau membutuhkan.
Referensi dalam pasal tersebut biasanya merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW, seperti "Siapa saja yang meninggalkan harta, itu adalah hak ahli warisnya. Siapa saja yang meninggalkan orang lemah (yang tidak punya anak maupun orangtua), itu adalah urusan kami." Ini menegaskan bahwa urusan menafkahi orang-orang lemah adalah tanggung jawab kolektif umat Islam dan terutama negara.
2. Membuka Pintu Rezeki Seluas-luasnya
Bagaimana caranya? Negara bisa mengelola sumber daya alam secara optimal, mendorong industrialisasi, menghidupkan lahan mati (ihyaul mawat), sampai memberi modal dan pelatihan skill bagi warga yang membutuhkan. Dengan dibukanya pintu kesempatan kerja yang luas, rakyat tidak akan kesusahan mencari kerja.
Khususnya bagi laki-laki yang diamanahkan sebagai pencari nafkah. Sistem upah yang diterapkan pun akan memberikan rasa adil bagi pekerja, karena besarnya upah sesuai dengan beban pekerjaan. Ini menciptakan lingkungan kerja yang lebih adil dan manusiawi.
3. Sistem Pendidikan Berbasis Islam
Terakhir, sistem pendidikan Islam juga punya peran vital. Dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, pendidikan harus membentuk generasi yang nggak cuma pintar, tapi juga punya kepribadian Islam yang kuat. Mereka akan memiliki akidah yang mantap, wawasan luas, dan skill yang mumpuni saat terjun ke dunia kerja.
Ketika mereka masuk ke dunia kerja, ruh dan keimanan akan selalu menjadi bingkai aktivitas. Rakyat melakukannya dengan dorongan ibadah, dan senantiasa mengikuti standar halal-haram. Negara memfasilitasi semua ini dengan paradigma melayani urusan rakyatnya, bukan dianggap sebagai beban.
Dengan solusi sistemis dari Islam ini, dunia kerja nggak lagi jadi "medan perang" yang bikin stres. Kita bisa bekerja dengan ikhlas, tenang memenuhi kebutuhan hidup, dan yang paling penting, setiap aktivitas bernilai ibadah di mata Allah SWT. Terlebih karena keterampilan yang mereka berikan bermanfaat untuk kemaslahatan umat. Dengan menerapkan solusi ini di level institusi yang menjadikan Islam sebagai pengatur negara, maka tidak akan muncul fenomena job hugging ataupun potret gelap lain yang melanda dunia kerja.
Wallahu’alam bishowab.
Oleh: Hanum Hanindita, S.Si., Penulis Artikel Islami
Disunting oleh: S. Reja
Terakhir disunting: September 28, 2025














