Sumber gambar: Misbahul Aulia (@auliamisbahul) melalui Unsplash
Makanan sering kali punya ikatan emosional dengan manusia. Ketika perut terasa lapar ditengah perasaan yang kacau, bisa saja perut menolak makanan masuk. Tapi tidak dengan mie ayam.
Kehidupan boleh menghancurkan perasaan seseorang, namun mie ayam selalu hadir sebagai pelipur lara. Mie ayam mampu merenggut panca indera seseorang, menariknya dari realitas dan menyuruhnya beristirahat sebentar. Kuah gurih kaldu ayamnya bak mengangkat batu dalam pikiran lewat cita rasa nostalgia, harum rempahnya sanggup mengatur nafas, tekstur mie yang kenyal begitu memanjakan lidah.
Pernahkah kamu berpikir, mengapa semangkuk mie ayam sederhana bisa terasa lebih menenangkan daripada nasihat siapa pun?
Penyelamat Nafsu Makan
Tidak semua orang mau dan mampu membayar psikolog supaya pikirannya sedikit lebih tenang. Mereka lebih memilih makanan sebagai mekanisme bertahan, salah satunya mie ayam.
Makan mie ayam bukan hanya sekedar aktivitas biologis. Apalagi kondisi emosional yang berfluktuasi dapat menghilangkan nafsu makan, tapi mie ayam disinyalir mampu memulihkan keseimbangan batin dengan cara murah meriah.
Kenapa mie ayam menjadi pilihan disaat malas makan?
Dalam psikologi, makan bisa menjadi self soothing yaitu cara tubuh menenangkan pikiran melalui sensasi akrab dan menenangkan.
Ketika seseorang sedih, cemas, atau terlalu lelah, tubuh mengeluarkan reaksi psikologis yang membuat sistem pencernaan melambat. Ini dikarenakan otak terlalu fokus pada kondisi emosional. Di situlah mie ayam menyelamatkan, ia memiliki aroma familiar yang menyenangkan dari kaldu ayamnya.
Kamu pasti punya banyak memori asyik tentang mie ayam, hal inilah yang mempengaruhi otak dalam menafsirkan aromanya sebagai sinyal aman. Sehingga menurunkan kadar stres dan mendobrak kembali selera makan.
Perlu disadari bahwa kondisi perut kenyang sangat memungkinkan seseorang mendapatkan kembali energi yang hilang. Ada istilah yang menyebut perut sebagai otak kedua yang menjadi pondasi utama dalam berpikir. Dengan begitu, mengisi perut bukan hanya soal fisik tapi juga bagian dari proses menstabilkan emosi.
Selanjutnya, mie ayam tidak termasuk makanan berat, juga tidak ada dalam kategori cemilan tapi cukup mengenyangkan. Posisi tengah ini memberi rasa aman, tidak berlebihan tapi cukup mengisi kekosongan perut dan hati. Itulah kenapa mie ayam sering dipilih saat malas makan, bukan karena lapar tapi karena ia mudah diterima tubuh dan hati secara bersamaan di waktu yang tepat.
Barangkali, mie ayam tidak benar-benar menyembuhkan luka batin, tapi melalui cita rasanya membuatmu sanggup bertahan satu hari lagi.
Memberi Jeda Efektif
Jalan keluar masalah sulit ditemukan? Tenang saja, gerobak mie ayam mudah sekali dijangkau. Gang sempit depan kantor, setiap berapa ratus meter di pinggir jalan, di dalam perkampungan, banyaknya warung mie ayam ini menandakan ia siap memeluk saat dibutuhkan tanpa banyak tanya.
Warungnya membuka pintu bagi siapa saja: pegawai kantoran, anak kos, mahasiswa, anak sekolah, ibu-ibu, atau tukang ojek.
Mie ayam memberikan jeda serupa tombol pause dalam kehidupan yang serba cepat. Tidak ada jaminan penyelesaian masalah, namun ketersediaan ruang refleksi memungkinkan seseorang dapat menata emosi dan pikiran.
Dalam mode survival, otak membutuhkan jeda untuk mengendurkan rasa cemas, khawatir, dan berujung lelah. Kondisi ini membuat energi terkuras dan berakibat kelelahan mental karena harus terus bertahan.
Dengan memberi jeda dan adanya dukungan ruang beristirahat, otak dapat beralih ke mode istirahat dan cerna. Secara biologis, sistem saraf parasimpatik mulai aktif, detak jantung melambat, dan aliran darah ke otak meningkat. Di titik ini kemampuan berpikir rasional, memori dan kreativitas perlahan kembali.
Maka, mengunjungi warung mie ayam bisa menciptakan kondisi batin yang memungkinkan solusi itu muncul. Mie ayam menjadi simbol bahwa solusi tidak harus rumit. Kadang cukup dengan duduk di bangku kayu panjang atau bangku plastik, menunggu hidangan sambil ngemil kerupuk, lalu membiarkan rasa gurihnya menenangkan batin yang riuh.
Dan dibalik mudahnya mendapatkan gerobak mie ayam menjadi pengingat halus kalau yang dicari selama ini mungkin bukan jawaban besar, tapi bisa dimulai dari jeda kecil supaya bisa kembali menemukan diri sendiri.
Rasa Kendali di Tengah Kekacauan
Seringnya orang stres akibat ketidakmampuan seseorang dalam mengendalikan situasi. Namun hal itu tidak berlaku jika masih bisa memesan mie ayam. Hal tersebut merupakan tindakan sederhana yang memberi kembali rasa “aku bisa memilih sesuatu.”
Dalam mangkuknya, kamu bisa memilih menggunakan sambal cabai atau saus, pakai bakso atau ceker, mau disandingkan dengan es teh manis atau es jeruk.
Kendali-kendali kecil ini terasa remeh, tapi berdampak efektif dalam memulihkan perasaan tidak berdaya. Dunia memang selalu tidak bisa di atur sesuai keinginan, hanya ada beberapa hal terkait diri sendiri yang bisa dipilih termasuk bagaimana caramu memilih rasa mie ayam.
Berbeda dengan nasihat atau pelarian yang sering menambah rumit perasaan, mie ayam menawarkan bentuk penyembuhan yang sederhana lewat hangat kuah kaldunya, aroma ayam, atau bumbu racikan tambahan yang bisa dipilih sendiri.
Mie ayam memang punya kaitan erat dengan kenyamanan emosional. Setiap suapannya membawa ingatan pada masa-masa sederhana, atau saat menikmatinya di tengah hujan deras. Jadi, mie ayam bukan sekedar makanan namun sebuah jembatan penghubung antara emosi dan diri sendiri, serta antara rasa lapar dan kebutuhan untuk dipahami.












