Lelah Jadi Workaholic, Musisi Ini ‘Refactor’ Hidupnya Lewat Album Baru

Santika Reja

Refactoring

NEWS TNG– Ada masa ketika hidup terasa seperti kode program yang berjalan tanpa henti, penuh instruksi kaku, tapi lupa untuk apa semua itu dijalankan. Perasaan semacam itulah yang jadi titik awal lahirnya album terbaru musisi rief6669, yang resmi dirilis pada 3 September lalu di Spotify, Apple Music, dan YouTube Music.

Berbeda dari kebanyakan rilisan musik yang mengejar euforia, album berisi sembilan trek ini justru mengambil jalan sunyi. rief6669 meminjam istilah dunia software engineering, yakni refactoring, sebuah proses memperbaiki struktur kode tanpa mengubah fungsi intinya, sebagai metafora untuk menggambarkan proses “membenahi” hidup tanpa harus kehilangan jati diri.

Ketika “Legacy Code” Jadi Beban Hidup

Dalam istilah pemrograman, legacy code merujuk pada baris-baris kode lama yang sulit diubah tapi terus dipakai karena sistem sudah bergantung padanya. rief6669 menerjemahkan konsep itu ke ranah personal: ekspektasi yang kaku, jalan hidup yang sudah “di-hardcode” sejak awal, dan rutinitas yang berjalan otomatis tanpa pernah dipertanyakan lagi.

Album bertajuk Refactoring ini disebut sebagai upaya membersihkan “kode-kode usang” tersebut, lalu menyusunnya ulang menjadi struktur hidup yang lebih organik, lebih menerima ketidaksempurnaan, dan lebih dekat dengan makna rumah.

Kisah di Balik Sembilan Trek

Sorotan pertama datang dari trek “Awal Cerita Selamanya”, yang mengangkat kisah keruntuhan ego seorang pekerja keras justru karena hadirnya keluarga. Ada juga “Tumbuhlah Bebas”, pesan lintas generasi dari seorang ayah ke anaknya agar hidup merdeka dari standar dan ekspektasi orang lain, dirilis dengan sengaja bertepatan dengan hari ulang tahun sang anak.

Trek “Struktur Berantakan” mengambil sikap berbeda, yakni menormalisasi kegagalan dan menolak gagasan bahwa hidup harus mengikuti rencana yang sudah dipatok sejak awal. Sementara “Ekstraksi Waktu” memakai analogi proses menyeduh kopi dengan metode V60, sesuatu yang butuh kesabaran dan tidak bisa dipercepat, untuk berbicara soal waktu dan proses.

Penutupnya, “Penghujung Hari”, digambarkan seperti graceful shutdown dalam sistem komputer, sebuah proses berhenti yang tenang dan terkendali, membawa pesan bahwa validasi tertinggi dalam hidup bukan pencapaian, melainkan rumah.

Musik yang Tidak Terburu-buru

Secara musikal, “Refactoring” sengaja dibangun dengan aransemen yang mengalir dan kontemplatif, jauh dari kesan meledak-ledak. Album ini lebih cocok didengarkan sebagai teman merenung, terutama bagi generasi muda yang sedang menghadapi quarter-life crisis, profesional yang rentan burnout, atau orang tua baru yang tengah menata ulang prioritas hidupnya.

Bagi yang ingin mengikuti proses kreatif dan cerita di balik album ini lebih dekat, rief6669 cukup aktif membagikannya lewat akun Instagram rief6669.

Di tengah budaya kerja yang serba cepat dan menuntut produktivitas tanpa henti, “Refactoring” hadir sebagai pengingat sederhana: terkadang, hal paling berani yang bisa dilakukan seseorang bukan menambah fitur baru dalam hidupnya, melainkan berhenti sejenak, membersihkan yang berantakan, dan membangun ulang dari fondasi yang lebih jujur.

Disunting oleh: S. Reja

Terakhir disunting: September 4, 2026

Komentar Pembaca

pos terkait