NEWS TNG– Sobat News Tangerang, bayangkan hidup tanpa internet. Nggak bisa update status, nggak bisa streaming film favorit, apalagi belajar online atau cari kerja. Mirisnya, ini bukan skenario fiksi, tapi realita yang masih dihadapi ribuan desa di pelosok Indonesia. Di tengah era digital yang serba cepat ini, masih ada ribuan titik di peta kita yang belum tersentuh sinyal internet, menciptakan jurang digital yang menganga lebar.
Situasi genting ini akhirnya memicu reaksi keras dari berbagai pihak. Para pelaku industri teknologi informasi dan komunikasi (ICT) di Indonesia, yang notabene adalah tulang punggung konektivitas kita, kini serentak menyuarakan komitmen dan dukungan mereka. Ini bukan sekadar janji manis, tapi deklarasi serius yang diharapkan bisa jadi game-changer untuk pemerataan akses internet di seluruh negeri.
Kesenjangan Digital: Potret Nyata Ribuan Desa Tanpa Internet
Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), Meutya Hafid, menjadi saksi langsung deklarasi penting ini. Kehadirannya bukan hanya sebagai formalitas, melainkan bentuk dukungan penuh pemerintah terhadap upaya percepatan digitalisasi nasional. Langkah ini sejalan dengan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, yang menempatkan pemerataan akses digital sebagai salah satu prioritas utama untuk kemajuan bangsa.
Deklarasi akbar ini berlangsung dalam momen spesial, yaitu upacara peringatan Hari Bhakti Postel ke-80 di Bandung, Sabtu (27/9). Momen ini seolah menjadi panggung yang tepat untuk menjawab kritik pedas mengenai lambatnya pemerataan digital di Indonesia. Pertanyaan besar yang selalu muncul adalah, "Kapan semua desa bisa menikmati internet?" dan kini, jawabannya mulai dirajut bersama.
Menteri Komdigi Buka-bukaan: Angka yang Bikin Miris
Menteri Meutya Hafid tak sungkan-sungkan membeberkan fakta pahit yang mungkin bikin Sobat News Tangerang terkejut. "Masih ada 2.333 desa di Indonesia yang belum terkoneksi internet," ungkapnya dengan nada serius. Angka ini bukan sekadar statistik biasa, melainkan cerminan nyata dari ketertinggalan yang harus segera diatasi.
Dari jumlah tersebut, rinciannya pun tak kalah memprihatinkan. Sebanyak 2.017 desa di antaranya belum mendapatkan layanan 4G, yang artinya mereka bahkan belum bisa merasakan kecepatan internet standar masa kini. Sementara itu, ada 316 desa yang meskipun tidak berpenghuni, namun tetap tercatat dalam peta pembangunan dan memerlukan perhatian khusus di masa depan.
Angka-angka ini bukan hanya sekadar data, Sobat News Tangerang. Ini adalah cermin dari kesenjangan yang harus segera dijembatani. Bayangkan, di saat kita asyik dengan media sosial dan video call, ribuan saudara kita di desa lain masih kesulitan mengakses informasi dasar, pendidikan, bahkan layanan kesehatan yang kini banyak beralih ke platform digital.
Tak hanya itu, Menteri Meutya juga menyoroti persentase fixed broadband rumah tangga yang baru mencapai 27,4 persen. Ini adalah sinyal kuat bahwa perjuangan untuk mewujudkan Indonesia yang benar-benar terkoneksi masih sangat panjang. Fixed broadband, yang menawarkan koneksi internet stabil dan cepat di rumah, adalah kunci untuk produktivitas dan inovasi. Rendahnya angka ini menunjukkan bahwa banyak keluarga masih mengandalkan koneksi seluler yang seringkali terbatas dan kurang stabil.
Gerakan Kolaborasi: Industri ICT Turun Tangan!
Menyambut seruan dan data yang memprihatinkan ini, Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Muhammad Arif, mengakui bahwa tantangan yang dihadapi memang sangat besar. Namun, pengakuan ini datang bersamaan dengan komitmen kuat dari seluruh anggota APJII dan pelaku industri ICT lainnya untuk tidak tinggal diam.
Kolaborasi ini bukan hanya tentang memasang menara BTS atau menarik kabel fiber optik semata. Ini adalah upaya komprehensif yang melibatkan investasi besar, pengembangan teknologi yang inovatif, dan sinergi kebijakan yang mendukung. Para raksasa internet, penyedia layanan telekomunikasi, hingga startup teknologi, kini bersatu padu untuk mewujudkan mimpi Indonesia merdeka digital.
Mereka menyadari bahwa pemerataan akses internet bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga seluruh elemen bangsa. Industri ICT memiliki kapabilitas dan sumber daya yang krusial untuk mempercepat pembangunan infrastruktur digital, menjangkau daerah-daerah terpencil, dan memastikan bahwa setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses dunia maya.
Asta Cita dan Visi Digitalisasi Nasional
Program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur yang merata, termasuk infrastruktur digital. Visi ini bukan hanya tentang konektivitas semata, tetapi juga tentang bagaimana internet bisa menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi lokal, peningkatan kualitas pendidikan, dan pemerataan layanan publik.
Dengan adanya internet, desa-desa bisa mengembangkan potensi wisatanya, memasarkan produk UMKM mereka ke pasar yang lebih luas, dan anak-anak muda bisa mengakses pendidikan berkualitas tanpa harus pergi ke kota. Internet adalah jembatan menuju peluang yang tak terbatas, dan Asta Cita berupaya memastikan jembatan itu terbentang sampai ke pelosok negeri.
Tantangan Besar, Harapan Baru: Peran APJII dan Pelaku Industri
APJII, sebagai wadah bagi para penyelenggara jasa internet di Indonesia, memiliki peran sentral dalam upaya kolaborasi ini. Mereka adalah garda terdepan yang memahami seluk-beluk tantangan di lapangan, mulai dari sulitnya medan geografis, tingginya biaya investasi, hingga regulasi yang kadang belum adaptif.
Komitmen APJII dan seluruh pelaku industri ICT ini menjadi harapan baru bagi ribuan desa yang selama ini terisolir. Mereka berjanji untuk tidak hanya fokus pada pembangunan di kota-kota besar, tetapi juga mengalihkan perhatian dan sumber daya ke daerah-daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Ini adalah langkah konkret menuju inklusi digital yang sesungguhnya.
Apa Artinya Ini untuk Kita, Sobat News Tangerang?
Bagi Sobat News Tangerang, upaya ini mungkin terasa jauh dari kehidupan sehari-hari kita yang sudah serba online. Namun, ingatlah bahwa kemajuan suatu bangsa tidak bisa diukur dari kemajuan satu daerah saja. Ketika ribuan desa di pelosok Indonesia akhirnya terkoneksi, dampaknya akan terasa di seluruh negeri.
Ekonomi nasional akan tumbuh lebih kuat, kesenjangan sosial akan berkurang, dan potensi-potensi tersembunyi dari berbagai daerah akan bisa terangkat. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan Indonesia yang lebih cerah dan merata. Kita semua adalah bagian dari ekosistem digital ini, dan keberhasilan pemerataan akses internet adalah keberhasilan kita bersama.
Menuju Indonesia Merdeka Digital
Deklarasi di Hari Bhakti Postel ke-80 ini bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang. Ribuan desa yang masih ‘offline’ adalah pengingat bahwa pekerjaan rumah kita masih banyak. Namun, dengan adanya komitmen kuat dari pemerintah dan seluruh pelaku industri ICT, harapan untuk mewujudkan Indonesia yang benar-benar merdeka digital kini semakin nyata. Mari kita dukung bersama, Sobat News Tangerang, agar tak ada lagi desa yang tertinggal di era serba digital ini!
Disunting oleh: S. Reja
Terakhir disunting: September 28, 2025














