Gak Habis Pikir! Pancasila Kian Luntur di Generasi Muda? BPIP Punya Jurus Jitu Lawan Hoax & Individualisme!

Ifan R

Peserta acara Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila berfoto bersama di Tangerang.
BPIP gelar acara penguatan nilai Pancasila di kalangan generasi muda.

NEWS TNG– Di tengah gempuran informasi digital dan gaya hidup serbaindividualis, nilai-nilai Pancasila seolah diuji ketahanannya. Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) tak tinggal diam. Mereka baru saja menggelar acara bertajuk "Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila" di Narita Hotel, Cipondoh, Tangerang, yang dihadiri sekitar 300 peserta.

Acara ini bukan sekadar kumpul-kumpul biasa, melainkan sebuah upaya serius untuk membentengi generasi muda dari ancaman disinformasi dan paham transnasional yang berpotensi memecah belah bangsa. Tujuannya jelas: menanamkan kembali Pancasila sebagai fondasi kuat dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi anak-anak muda yang kini akrab dengan dunia maya.

Literasi: Benteng Utama Lawan Hoax & Paham Asing

Direktur Jaringan dan Pembudayaan BPIP, Toto Purbiyanto, menegaskan bahwa literasi adalah kunci utama. Di era banjir informasi seperti sekarang, kemampuan memilah dan mencerna berita menjadi sangat krusial. Tanpa filter yang kuat, masyarakat, khususnya generasi muda, akan mudah terprovokasi oleh berita bohong dan narasi menyesatkan.

"Kalau dasar setiap masyarakat punya filter, mereka tidak akan gampang terprovokasi oleh berita bohong," jelas Toto. Ia menambahkan, membaca sejarah dan memahami konteksnya bisa menjadi benteng ampuh dari pengaruh informasi yang menyesatkan. Ini bukan cuma soal tahu, tapi juga soal kritis dalam menyikapi setiap informasi yang masuk.

Toto juga menyoroti bagaimana generasi muda lebih akrab dengan konten singkat dan visual. Maka dari itu, penyampaian nilai-nilai Pancasila tidak bisa lagi dengan cara-cara konvensional yang membosankan. BPIP mencoba berinovasi, mendekatkan Pancasila ke keseharian mereka.

"Kalau narasi panjang jarang dibaca, maka kami coba masuk lewat video, gambar, atau reels pendek," ujarnya. Menurutnya, nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan bisa disampaikan dalam bahasa visual yang lebih dekat dengan keseharian mereka, seperti konten-konten inspiratif di media sosial yang mudah dicerna dan dibagikan. Ini adalah strategi cerdas untuk memastikan Pancasila tetap relevan di era digital.

Pendidikan Pancasila yang Kian Tergerus

Anggota Komisi XIII DPR RI, Marinus Gea, punya pandangan serupa, namun dengan nada prihatin. Ia menyoroti fakta bahwa pendidikan Pancasila kini tak lagi mendapat porsi sebesar masa lalu. Dulu, anak-anak dari SD sampai SMA diajarkan Pancasila secara formal dan mendalam.

"Sekarang banyak yang bahkan belum hafal sila-silanya," keluh Marinus. Kondisi ini, menurutnya, berakibat pada berkurangnya rasa cinta tanah air dan semangat kebangsaan di kalangan generasi muda. Ini adalah alarm serius yang perlu segera ditanggapi bersama.

Lebih lanjut, Marinus juga menyoroti gejala berkurangnya kepedulian sosial di masyarakat, yang ia sebut sebagai dampak derasnya budaya individualisme. "Kurangnya kepedulian sosial, misalnya kepada tetangga yang membutuhkan bantuan, menjadi tanda bahwa nilai Pancasila semakin jauh dari kehidupan generasi muda," tambahnya. Fenomena ini bisa kita lihat di sekitar kita, di mana interaksi sosial seringkali digantikan oleh interaksi di dunia maya.

Keluarga: Fondasi Utama Karakter Kebangsaan

Marinus Gea menekankan bahwa keluarga harus menjadi pondasi pertama dalam menanamkan nilai kebangsaan. Sebelum sekolah dan lingkungan, rumah adalah tempat pertama anak-anak belajar tentang moral, etika, dan nilai-nilai luhur. Orang tua memiliki peran vital sebagai teladan.

"Penanaman nilai Pancasila harus dimulai dari rumah," katanya. Keluarga adalah fondasi agar anak-anak tumbuh dengan karakter kebangsaan yang kuat, memahami arti gotong royong, toleransi, dan keadilan sejak dini. Tanpa pondasi ini, nilai-nilai yang diajarkan di luar rumah akan sulit melekat.

Pancasila: Vitamin Kuat untuk Bangsa Heterogen

Dosen Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), Ahmad Chumaedy, mengapresiasi langkah BPIP ini. Menurutnya, kegiatan semacam ini sangat relevan untuk memperkokoh persatuan bangsa, terutama mengingat masyarakat Indonesia yang sangat heterogen. "BPIP luar biasa, karena masyarakat kita yang heterogen memang membutuhkan asupan ‘vitamin’ nilai-nilai Pancasila," ujarnya.

Ia menganalogikan Pancasila sebagai protein penting bagi tubuh yang sehat. Dengan asupan nilai-nilai Pancasila yang baik, pondasi kebangsaan kita akan semakin kuat, ibarat tubuh yang sehat karena mendapat asupan protein yang baik. Harapannya, nilai-nilai Pancasila terus tumbuh dan berkembang, menjadi panduan hidup yang kokoh di tengah berbagai tantangan.

Melahirkan Agen Kebajikan di Era Digital

Selain menghadirkan sejumlah narasumber inspiratif, acara ini juga disertai dialog interaktif yang dipandu oleh Dosen UMT, Toddy Aditya. Forum ini menjadi ruang bagi peserta untuk berdiskusi, bertanya, dan berbagi pandangan tentang bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, terutama di era digital yang penuh dinamika.

Melalui forum tersebut, BPIP berharap lahir relawan-relawan muda yang mampu menjadi agen kebajikan. Mereka diharapkan bukan hanya sekadar memahami Pancasila, tetapi juga aktif menyebarkan nilai-nilai positif dan menjadi penjaga persatuan bangsa di tengah era digital yang penuh tantangan. Ini adalah panggilan bagi anak muda untuk tidak pasif, melainkan menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan dan ideologi bangsa.

Disunting oleh: S. Reja

Terakhir disunting: September 29, 2025

Komentar Pembaca

pos terkait