Gara-gara Alpaka, Kafe Ini Didenda Rp 37 Juta dan Tutup Paksa! Kok Bisa?

Tammy

Petugas membantu memakaikan masker kepada warga di malam hari. Penertiban protokol kesehatan.
Operasi masker, tegakkan disiplin protokol kesehatan di tempat umum.

NEWS TNG– Siapa sangka, niat hati ingin membuat kafe paling hits dan unik dengan menghadirkan alpaka gemoy, malah berujung pada denda puluhan juta rupiah dan penutupan paksa? Inilah kisah Kafe Nook Melaka di Melaka, Malaysia, yang kini jadi perbincangan hangat di kalangan pecinta kuliner dan hewan. Konsep yang dianggap brilian ini ternyata menabrak aturan dan menimbulkan keprihatinan serius.

Konsep Unik yang Jadi Bumerang

Di tengah persaingan bisnis kuliner yang makin ketat, para pengusaha berlomba-lomba mencari ide brilian untuk menarik perhatian. Kafe Nook Melaka mencoba terobosan yang cukup ekstrem: mengubah kafe mereka menjadi semacam mini kebun binatang hidup, tempat pengunjung bisa bersantap ditemani beragam satwa.

Bayangkan saja, kamu bisa menyeruput kopi sambil ditemani alpaka yang lucu, domba yang menggemaskan, angsa yang anggun, bebek, kelinci, bahkan kucing. Total ada 22 jenis hewan yang sengaja dihadirkan untuk memberikan pengalaman bersantap yang tak terlupakan bagi setiap pelanggan.

Konsep "animal cafe" memang bukan hal baru di beberapa negara, namun Kafe Nook Melaka membawa ide ini ke level yang berbeda dengan variasi hewan yang sangat beragam. Pemiliknya, seorang pengusaha asal Singapura, mengaku ingin menawarkan sensasi berbeda dan menyenangkan bagi pelanggan, menciptakan momen yang viral dan Instagramable.

Alpaka Mahal, Nasibnya Gimana?

Salah satu bintang utama di kafe ini tentu saja adalah alpaka. Hewan berbulu lembut ini diimpor langsung dari Australia dengan harga fantastis, mencapai Rp 171 juta per pasang, menunjukkan investasi yang tidak main-main dari sang pemilik. Hanya alpaka jantan yang dipajang di kafe, sementara alpaka betinanya dipelihara di rumah.

Pemilik kafe bersikeras bahwa alpaka dan hewan lainnya dirawat dengan sangat baik, dengan perhatian penuh terhadap kebutuhan mereka. Hewan-hewan ini dibawa masuk secara bertahap sejak Juni lalu, seolah ingin memastikan adaptasi para satwa di lingkungan kafe yang baru.

Namun, di balik niat baik dan investasi besar itu, ada pertanyaan besar yang muncul: apakah lingkungan kafe benar-benar ideal untuk kesejahteraan hewan-hewan ini? Apakah mereka mendapatkan ruang gerak, privasi, dan lingkungan alami yang cukup untuk hidup sehat dan bahagia?

Melanggar Aturan, Bukan Cuma Soal Izin

Sayangnya, ide brilian ini ternyata menabrak tembok regulasi yang kokoh dan tak bisa ditawar. Dewan Kota Bersejarah Melaka (MBMB) dengan tegas menyatakan bahwa izin operasional Kafe Nook Melaka tidak mencakup keberadaan hewan di area makan. Ini adalah pelanggaran mendasar yang tidak bisa diabaikan.

Aturan ini bukan tanpa alasan. Kehadiran hewan di tempat makan bisa menimbulkan berbagai masalah serius, mulai dari kebersihan yang sulit terjaga, potensi alergi pada pengunjung, hingga risiko penularan penyakit yang bisa membahayakan kesehatan publik. Kesehatan dan keselamatan pengunjung tentu jadi prioritas utama setiap tempat usaha kuliner.

Lebih dari sekadar izin, isu kesejahteraan hewan juga menjadi sorotan tajam dari pihak berwenang. Para pejabat setempat mulai mempertanyakan kondisi hidup 22 hewan yang setiap hari harus berinteraksi dengan pengunjung di lingkungan kafe yang mungkin asing dan penuh tekanan bagi mereka.

Suara dari Pihak Berwenang

Wakil Komisi Eksekutif untuk Sains, Teknologi, Inovasi, dan Komunikasi Digital, Datuk Mohd Noor Helmy, tidak tinggal diam melihat situasi ini. Ia menyoroti kondisi hewan-hewan tersebut yang dinilai tidak mendapat cukup ruang istirahat atau ‘me-time’ dari interaksi terus-menerus dengan manusia.

Menurut Datuk Mohd Noor Helmy, "Idenya menarik, tapi salah karena tidak sesuai aturan dewan setempat. Kasihan hewan-hewan itu, mereka bahkan tidak punya waktu untuk diri sendiri." Pernyataan ini cukup menohok dan menggambarkan keprihatinan mendalam pihak berwenang terhadap nasib para satwa.

Bayangkan saja, hewan-hewan yang seharusnya hidup di alam bebas atau setidaknya di lingkungan yang luas dan tenang, kini harus berinteraksi terus-menerus dengan manusia di dalam ruangan kafe yang terbatas. Ini tentu bisa menimbulkan stres, kecemasan, dan mengurangi kualitas hidup mereka secara signifikan.

Konsekuensi yang Menyakitkan

Akibat pelanggaran serius ini, Kafe Nook Melaka harus menanggung konsekuensi yang tidak main-main dan sangat merugikan. Kafe tersebut didakwa melanggar aturan dan diperintahkan untuk ditutup sementara selama 7 hari, mulai dari tanggal inspeksi hingga 28 September 2025.

Selama periode penutupan ini, pemilik diwajibkan untuk membersihkan seluruh area kafe secara menyeluruh sesuai standar kebersihan yang ketat. Yang terpenting, semua hewan harus segera dipindahkan dari lokasi kafe ke tempat yang lebih layak dan sesuai dengan kebutuhan mereka.

Tak hanya itu, pihak kafe juga diganjar denda yang cukup fantastis, senilai Rp 37 juta, sebagai sanksi atas pelanggaran regulasi yang dilakukan. Ditambah lagi, ada denda sebesar Rp 925.000 untuk pelanggaran izin makanan. Sebuah harga yang sangat mahal untuk sebuah konsep yang awalnya dianggap "brilian" dan berpotensi viral.

Pelajaran Berharga untuk Bisnis Kreatif

Kasus Kafe Nook Melaka ini menjadi pengingat penting bagi para pengusaha, terutama yang bergerak di bidang kuliner dan pariwisata. Inovasi memang penting untuk menarik perhatian dan bersaing, namun harus selalu sejalan dengan regulasi yang berlaku dan etika, terutama yang berkaitan dengan kesejahteraan makhluk hidup.

Mencari sensasi unik untuk menarik pelanggan memang sah-sah saja, tapi jangan sampai mengorbankan aspek penting seperti kebersihan, keamanan, dan yang tak kalah krusial, hak-hak hewan untuk hidup layak. Konsep "animal cafe" harus dikaji ulang secara matang, memastikan lingkungan yang aman dan nyaman bagi semua pihak, baik manusia maupun hewan.

Mungkin ada cara lain yang lebih etis dan bertanggung jawab untuk menghadirkan pengalaman unik tanpa harus menempatkan hewan di lingkungan yang tidak semestinya. Edukasi tentang hewan, atau kafe yang berkolaborasi dengan penampungan hewan untuk adopsi, bisa jadi alternatif yang lebih positif dan berkelanjutan.

Penutup

Kisah Kafe Nook Melaka ini berakhir dengan pelajaran pahit yang harus ditelan oleh sang pemilik. Niat baik untuk menghadirkan pengalaman berbeda justru berujung pada denda besar dan penutupan paksa, serta sorotan negatif dari publik dan pihak berwenang. Semoga ini menjadi pembelajaran berharga bagi semua pihak agar lebih bijak dalam berinovasi dan selalu memprioritaskan etika serta aturan yang berlaku.

Bagaimana menurutmu? Apakah konsep kafe dengan hewan seperti ini memang sebaiknya dihindari sepenuhnya, atau perlu regulasi yang lebih jelas dan ketat agar bisa berjalan dengan etis dan aman bagi semua pihak? Mari kita jadikan kasus ini sebagai bahan refleksi bersama.

Disunting oleh: S. Reja

Terakhir disunting: September 25, 2025

Komentar Pembaca

pos terkait