Geger! Rekening ‘Tidur’ Rp70 Miliar Diduga Jadi Dalang Kematian Tragis Kacab BRI Cempaka Putih

Dyandra

Pria berpakaian adat sedang bekerja dengan semen di tanah.
Kasus Kacab BRI Cempaka Putih: Polisi telusuri dugaan dana Rp70 Miliar.

NEWS TNG– Misteri kelam di balik kematian tragis Mohamad Ilham Pradipta (37), Kepala Cabang Pembantu (Kacab) Bank BRI Cempaka Putih, perlahan mulai menemukan titik terang. Kasus yang menggemparkan publik ini kini mengarah pada sebuah motif yang tak kalah mengejutkan: adanya dana fantastis di rekening dormant, alias rekening "tidur".

Penyelidikan intensif dari Ditreskrimum Polda Metro Jaya berhasil mengungkap fakta krusial ini. Dana senilai puluhan miliar rupiah, yang diduga menjadi incaran utama para pelaku, kini menjadi fokus utama penyelidikan. Angka sementara yang berhasil diidentifikasi sungguh mencengangkan.

Terkuak: Dana Rp70 Miliar di Balik Tragedi

Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Wira Satya Triputra, membeberkan detail awal terkait motif keji ini. Ia menyebut bahwa total dana yang hendak digasak para pelaku mencapai angka yang sangat fantastis, berkisar antara Rp60 miliar hingga Rp70 miliar. Jumlah ini tersebar di beberapa rekening yang berbeda.

"Pastinya kita belum tahu, tapi dari yang sudah teridentifikasi cukup tinggi, ada 60 apa 70 miliar," ujar Wira Satya di Markas Polda Metro Jaya, Selasa lalu, dalam sebuah pernyataan yang bikin geger. Angka tersebut tentu bukan jumlah yang main-main dan langsung memicu banyak pertanyaan.

Ketika ditanya lebih lanjut apakah rekening-rekening tersebut hanya berada di bank pelat merah, Wira tidak menampik. Namun, ia menegaskan bahwa dana tersebut juga tersimpan di sejumlah bank lain, menunjukkan jaringan yang lebih luas dan kompleks. Ini menambah lapisan kerumitan dalam upaya pengungkapan kasus.

"Yang kemarin tuh sekitar itu (dananya), ada beberapa bank lain," tambahnya, mengisyaratkan bahwa para pelaku memiliki informasi detail mengenai berbagai rekening di berbagai institusi keuangan. Informasi ini tentu menjadi kunci dalam membongkar motif dan modus operandi mereka.

Jejak Misterius Dana Raksasa

Meski sudah ada titik terang mengenai besarnya nilai dana yang menjadi pemicu, polisi masih menutup rapat identitas pemilik rekening dormant tersebut. Daftar detail bank yang terlibat juga belum diungkap ke publik, demi menjaga integritas proses penyelidikan yang sedang berlangsung.

Penyidik kini masih mendalami secara intensif keterkaitan dana raksasa ini dengan tindak pidana yang kini tengah mereka bongkar. Ada dugaan kuat bahwa akses atau informasi mengenai rekening-rekening "tidur" inilah yang menjadi incaran utama para pelaku, memicu aksi keji yang merenggut nyawa korban.

Mengapa rekening dormant menjadi target? Rekening "tidur" adalah akun yang tidak aktif dalam jangka waktu tertentu, seringkali karena pemiliknya lupa atau sudah meninggal. Dana di dalamnya seringkali kurang terpantau, menjadikannya target empuk bagi pihak-pihak yang ingin melakukan kejahatan finansial.

Pertanyaan besar yang muncul adalah bagaimana para pelaku bisa mendapatkan informasi mengenai rekening-rekening ini. Apakah ada kebocoran data internal, ataukah ada jaringan yang memang sengaja mencari celah di sistem perbankan? Ini menjadi PR besar bagi pihak kepolisian.

Detik-detik Penculikan dan Penemuan Jasad

Kasus ini berawal pada 20 Agustus 2025, ketika Mohamad Ilham Pradipta diketahui menghadiri rapat penting. Pertemuan tersebut berlangsung dengan pihak Lotte Grosir di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, menjadi lokasi terakhir korban terlihat dalam kondisi aman.

Dari rekaman CCTV yang berhasil diamankan, terlihat momen mengerikan saat korban diangkut paksa oleh sejumlah orang. Aksi penculikan ini terjadi saat Ilham masih berada di lokasi pertemuan, bak adegan film thriller yang membuat siapa pun bergidik ngeri.

Keesokan harinya, pada 21 Agustus 2025, publik dikejutkan dengan penemuan jasad Ilham. Tubuhnya ditemukan dalam kondisi mengenaskan di Kampung Karangsambung, Desa Nagasari, Kecamatan Serang Baru, Kabupaten Bekasi, jauh dari lokasi penculikan.

Jasad korban ditemukan dalam keadaan terikat, mata dilakban, dan diduga kuat menjadi korban penganiayaan brutal sebelum dibuang ke lokasi tersebut. Kondisi ini menunjukkan betapa kejamnya perlakuan yang diterima Ilham di tangan para penculik dan pembunuhnya.

Jaringan Pelaku Terbongkar, Oknum TNI Terseret

Hingga kini, Polda Metro Jaya telah berhasil meringkus 15 orang yang diduga kuat terlibat dalam kasus pembunuhan berencana ini. Namun, satu orang pelaku berinisial EG masih buron dan menjadi target utama pengejaran aparat.

Fakta lain yang tak kalah menggemparkan adalah terseretnya dua prajurit TNI dari Detasemen Markas Kopassus dalam pusaran kasus ini. Mereka adalah Sersan Kepala (Serka) N dan Kopral Dua (Kopda) FH, sebuah pengungkapan yang tentu saja mengejutkan banyak pihak.

Kedua oknum TNI tersebut kini sudah ditetapkan sebagai tersangka dan langsung ditahan oleh Polisi Militer Kodam (Pomdam) Jaya. Keterlibatan anggota militer dalam kasus kriminal serius seperti ini menambah kompleksitas dan sorotan publik terhadap penanganan kasus.

Ini menunjukkan bahwa jaringan pelaku tidak hanya terdiri dari warga sipil biasa, melainkan juga melibatkan individu dari institusi yang seharusnya menjaga keamanan negara. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan besar mengenai motif dan keterlibatan mereka.

Mengapa Rekening ‘Tidur’ Jadi Target?

Fenomena rekening dormant yang menjadi incaran kejahatan bukanlah hal baru, namun kasus ini menyoroti risiko yang sangat tinggi. Dana yang tidak aktif seringkali memiliki pengawasan yang lebih longgar, atau setidaknya, para pelaku mengira demikian. Ini menjadi celah yang dimanfaatkan oleh sindikat kejahatan.

Posisi Mohamad Ilham Pradipta sebagai Kepala Cabang Pembantu bank tentu memberinya akses atau setidaknya informasi vital terkait operasional bank. Apakah para pelaku mengincar akses tersebut, ataukah mereka mendapatkan informasi dari sumber internal lain yang kemudian digunakan untuk menekan korban?

Pertanyaan ini menjadi kunci untuk mengungkap motif sebenarnya dan bagaimana para pelaku merencanakan kejahatan keji ini. Modus operandi mereka terkesan terorganisir dan terencana dengan matang, mengingat nilai dana yang diincar dan kompleksitas jaringan pelaku.

Tantangan Besar Bagi Penegak Hukum

Kasus ini menghadirkan tantangan besar bagi penegak hukum, terutama dengan adanya keterlibatan oknum TNI. Koordinasi antara kepolisian dan Polisi Militer menjadi krusial untuk memastikan seluruh pelaku, tanpa terkecuali, dapat diadili sesuai hukum yang berlaku.

Publik menanti transparansi penuh dalam pengungkapan kasus ini, mengingat besarnya nilai uang yang terlibat dan posisi korban sebagai pejabat bank. Keadilan bagi Mohamad Ilham Pradipta harus ditegakkan, sekaligus memberikan efek jera bagi para pelaku kejahatan finansial dan kekerasan.

Pengungkapan identitas pemilik rekening dormant juga akan menjadi langkah penting untuk memahami seluruh skenario di balik tragedi ini. Apakah dana tersebut terkait dengan aktivitas ilegal, ataukah hanya dana biasa yang kebetulan "tertidur" dan menjadi sasaran empuk?

Menanti Titik Terang dan Keadilan

Kematian Mohamad Ilham Pradipta adalah sebuah tragedi yang menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan rekan kerja. Namun, pengungkapan motif dana puluhan miliar di rekening ‘tidur’ ini memberikan harapan baru bagi terkuaknya seluruh kebenaran.

Kita semua berharap agar Polda Metro Jaya dan Pomdam Jaya dapat bekerja sama dengan maksimal. Seluruh pelaku, termasuk otak di balik kejahatan ini, harus segera ditangkap dan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Keadilan harus ditegakkan demi ketenangan almarhum dan kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum.

Disunting oleh: S. Reja

Terakhir disunting: September 23, 2025

Komentar Pembaca

pos terkait