Kentang Jembut Masuk KBBI: Viral Karena Nama, Ternyata Punya Segudang Manfaat Tak Terduga!

Tammy

Tumpukan kentang jembut, umbi lokal berambut halus yang viral dan masuk KBBI.
Kentang jembut, umbi unik kini resmi jadi bagian dari Kamus Besar Bahasa Indonesia.

NEWS TNG– Kentang Jembut, nama yang mungkin bikin kamu senyum-senyum sendiri, kini resmi tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Umbi lokal berambut halus ini mendadak viral, bukan cuma karena namanya yang nyeleneh, tapi juga karena menyimpan segudang fakta menarik dan manfaat kesehatan yang tak terduga. Siap-siap terkejut, karena di balik nama uniknya, ada kisah panjang dan potensi besar yang perlu kita ketahui!

Apa Itu Kentang Jembut? Umbi Viral yang Bikin Heboh KBBI

Jadi, apa sebenarnya kentang jembut itu? Menurut KBBI, ia adalah umbi yang mirip kentang pada umumnya, namun dengan ciri khas ukuran yang lebih kecil dan berserabut halus. Deskripsi ini langsung membedakannya dari kentang yang biasa kita temui di pasar.

Nama ilmiahnya adalah Coleus tuberosus, atau kadang juga disebut Coleus rotundifolius. Umbi ini sebenarnya sudah lama jadi bagian dari pangan tradisional di berbagai desa, jauh sebelum namanya viral dan masuk ke dalam kamus kebanggaan kita.

Kemunculannya di KBBI membuat banyak orang penasaran dan mencari tahu lebih dalam tentang umbi yang satu ini. Ternyata, ada banyak hal menarik yang bisa digali dari si kentang berambut ini.

Jejak Sejarah dan Identitas Lokal Kentang Jembut

Usut punya usut, kentang jembut ini punya jejak sejarah yang panjang dan menarik. Diperkirakan berasal dari Afrika Barat, umbi ini kemudian menyebar luas hingga ke Asia, termasuk India, Myanmar, Tiongkok Selatan, dan tentu saja, Indonesia. Perjalanan panjang ini menunjukkan adaptabilitas dan nilai pentingnya sebagai sumber pangan.

Di Tanah Air, namanya bervariasi tergantung daerahnya, mencerminkan kekayaan budaya dan bahasa lokal kita. Masyarakat Jawa mengenalnya sebagai kentang hitam atau kentang Jawa, sementara di Sumatera akrab disebut kentang Belanda, dan di Bali dikenal sebagai kentang ireng. Ini menunjukkan bagaimana satu jenis tanaman bisa memiliki identitas berbeda di berbagai wilayah.

Jauh sebelum beras dan kentang (Solanum tuberosum) modern populer, kentang jembut sudah dibudidayakan ratusan tahun lalu sebagai bahan pangan alternatif yang penting. Ia menjadi salah satu pilar ketahanan pangan masyarakat tradisional sebelum adanya diversifikasi pangan yang lebih luas.

Kenapa Dinamakan "Kentang Jembut"? Ini Ciri Khasnya!

Nah, ini dia bagian yang paling bikin penasaran: kenapa sih dinamakan kentang jembut? Ternyata, nama itu muncul karena umbi ini memiliki serabut-serabut halus pada kulitnya, mirip seperti rambut. Ciri fisik inilah yang menjadi inspirasi di balik penamaannya yang unik dan mudah diingat.

Secara fisik, ukurannya memang jauh lebih mungil dibanding kentang biasa, rata-rata hanya sekitar 2-5 cm. Ini membuatnya terlihat imut dan berbeda dari kerabat kentang lainnya.

Tanaman ini tumbuh sebagai perdu kecil dengan batang yang agak berkayu, dan daunnya berbentuk bulat telur berwarna hijau dengan tepi bergerigi halus. Penampilannya yang sederhana ini seringkali membuat orang tak menyangka bahwa ia menyimpan potensi besar.

Umbinya sendiri berbentuk bulat atau lonjong, dengan kulit cokelat kehitaman dan daging berwarna putih kekuningan. Setelah dimasak, rasanya sedikit manis dan teksturnya pulen, cocok banget buat jadi camilan atau pengganti nasi yang mengenyangkan.

Bukan Sekadar Nama Unik: Segudang Manfaat Kesehatan Kentang Jembut

Jangan salah sangka, di balik namanya yang unik, kentang jembut ini menyimpan harta karun nutrisi yang luar biasa! Dalam setiap 100 gramnya, terkandung sekitar 20-25 gram karbohidrat, 2,5 gram protein, dan 0,5 gram lemak. Komposisi ini menjadikannya sumber energi yang baik.

Plus, ada 20 mg vitamin C, 3 gram serat pangan, serta mineral penting seperti kalium, zat besi, dan magnesium. Kehadiran vitamin dan mineral ini sangat vital untuk menjaga fungsi tubuh agar tetap optimal.

Dengan komposisi gizi sekaya itu, kentang jembut sangat potensial sebagai sumber energi sehat yang bikin kenyang lebih lama. Kandungan seratnya juga jagoan untuk menyehatkan pencernaan, membantu melancarkan buang air besar dan menjaga kesehatan usus.

Sementara itu, zat besinya efektif mencegah anemia ringan, kondisi yang seringkali dialami banyak orang. Tak ketinggalan, vitamin C dan mineral lainnya turut berperan penting dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh kita, membuat kita lebih tahan terhadap penyakit.

Hebatnya lagi, umbi ini punya indeks glikemik yang lebih rendah dibanding kentang biasa, cocok buat kamu yang lagi jaga asupan gula atau penderita diabetes. Penelitian juga mengungkap bahwa kentang jembut mengandung senyawa bioaktif seperti fenol, flavonoid, dan asam triterpenoid, yang dikenal punya sifat antioksidan kuat untuk melawan radikal bebas.

Kebangkitan Kentang Jembut: Dari Pangan Minor Jadi Harapan Masa Depan

Untungnya, umbi unik ini kini mulai kembali dilirik dan diapresiasi oleh berbagai pihak. Komunitas pertanian lokal dan para pemerhati pangan tradisional gencar menggaungkan pentingnya melestarikan kentang jembut. Mereka melihat potensi besar dalam umbi ini untuk masa depan.

Ini bukan cuma soal menjaga warisan kuliner leluhur, tapi juga demi diversifikasi pangan Indonesia yang lebih kuat dan berkelanjutan. Ketergantungan pada satu atau dua jenis pangan pokok bisa berisiko, dan kentang jembut menawarkan alternatif yang menjanjikan.

Di tengah ancaman krisis iklim dan tantangan pangan global, tanaman lokal yang tangguh dan mudah dibudidayakan seperti kentang jembut bisa jadi kunci ketahanan pangan masa depan kita. Kemampuannya beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang beragam menjadi nilai plus.

Penelitian tentang keragaman genetik kentang hitam di Jawa, Bali, dan Madura pun terus dilakukan, menunjukkan betapa berharganya varietas lokal ini untuk dilestarikan. Upaya ini penting agar kekayaan hayati kita tidak punah dan bisa terus dimanfaatkan.

Dari nama yang bikin geleng-geleng kepala hingga masuk KBBI, kentang jembut membuktikan bahwa sesuatu yang unik bisa menyimpan potensi luar biasa. Jadi, jangan cuma terkejut dengan namanya, tapi mari kita kenali dan lestarikan umbi lokal yang kaya manfaat ini!

Disunting oleh: S. Reja

Terakhir disunting: September 17, 2025

Komentar Pembaca

pos terkait