NEWS TNG– Bagi pelaku UMKM makanan, cetak kemasan bukan sekadar pembungkus. Dari pengalaman saya di dunia percetakan dan produksi kemasan, justru kemasan sering menjadi penentu pertama apakah sebuah produk akan dilirik, dipercaya, lalu dibeli—atau diabaikan begitu saja.
Banyak UMKM memiliki rasa yang enak, resep yang kuat, bahkan harga yang kompetitif. Namun sayangnya, potensi tersebut sering “mati” di rak karena kemasan yang kurang tepat. Artikel ini membahas tips memilih kemasan untuk UMKM makanan secara menyeluruh, praktis, dan realistis, berdasarkan kebutuhan di lapangan—not teori kosong.
1. Pahami Karakter Produk Makanan Anda Terlebih Dahulu
Kesalahan paling umum yang sering saya temui adalah memilih kemasan sebelum memahami produknya. Padahal setiap jenis makanan memiliki kebutuhan kemasan yang berbeda.
Beberapa hal yang wajib Anda pahami:
- Apakah produk kering, basah, atau berminyak
- Apakah produk mudah melempem, mencair, atau basi
- Apakah produk dikonsumsi langsung atau disimpan lama
- Apakah produk perlu dipanaskan ulang
Contoh sederhana:
- Keripik → butuh kemasan kedap udara
- Sambal → butuh kemasan anti bocor dan tahan minyak
- Kue basah → butuh kemasan food grade dan higienis
Tanpa memahami ini, kemasan bagus sekalipun bisa menjadi bumerang.
2. Pastikan Kemasan Food Grade dan Aman untuk Makanan
Untuk UMKM makanan, keamanan adalah segalanya. Jangan tergoda harga murah jika material kemasan tidak jelas standar keamanannya.
Ciri kemasan yang aman:
- Berlabel food grade
- Tidak berbau plastik menyengat
- Tidak mudah luntur atau mengelupas
- Aman bersentuhan langsung dengan makanan
Kemasan yang tidak food grade bisa:
- Mengubah rasa makanan
- Menimbulkan bau
- Menurunkan kepercayaan konsumen
- Menjadi masalah hukum di kemudian hari
Ingat, konsumen mungkin tidak paham istilah teknis, tapi mereka sangat peka terhadap kesan aman atau tidak.
3. Sesuaikan Jenis Kemasan dengan Skala UMKM
Tidak semua UMKM harus langsung menggunakan kemasan mahal. Yang terpenting adalah tepat guna.
Beberapa opsi kemasan yang umum untuk UMKM makanan:
- Cetak Standing pouch → fleksibel, ekonomis, tampilan modern
- Plastik OPP / PE → cocok untuk snack kering
- Cup plastik atau paper bowl → untuk makanan siap saji
- Box kertas food grade → untuk bakery dan makanan premium
Tips dari pengalaman lapangan:
Lebih baik kemasan sederhana tapi rapi dan konsisten, daripada kemasan mahal tapi tidak berkelanjutan secara biaya.
4. Desain Kemasan Harus Jelas, Bukan Sekadar Ramai
Banyak UMKM berpikir desain yang bagus adalah desain yang penuh warna dan elemen. Padahal, desain efektif justru yang mudah dipahami dalam 3–5 detik.
Informasi wajib pada kemasan makanan:
- Nama produk
- Varian rasa
- Berat bersih
- Tanggal kedaluwarsa
- Kontak atau brand
Desain yang baik:
- Mudah dibaca
- Kontras warna jelas
- Tidak terlalu banyak font
- Fokus pada produk, bukan dekorasi berlebihan
Kemasan adalah “sales tanpa suara”. Jika membingungkan, konsumen akan berlalu.
5. Pertimbangkan Daya Tahan dan Distribusi Produk
UMKM sering berkembang dari penjualan lokal ke online. Di tahap ini, kemasan harus siap distribusi, bukan hanya cantik.
Pertanyaan penting:
- Apakah kemasan kuat saat pengiriman?
- Apakah tahan tekanan dan guncangan?
- Apakah bocor jika dibawa jauh?
Banyak UMKM harus mengganti kemasan karena:
- Produk rusak saat dikirim
- Komplain dari pembeli online
- Rating turun di marketplace
Kemasan yang tepat akan mengurangi kerugian tanpa disadari.
6. Jangan Abaikan Faktor Biaya Produksi
Kemasan yang ideal adalah kemasan yang menguntungkan secara jangka panjang, bukan yang terlihat paling mewah.
Tips mengontrol biaya:
- Hitung biaya kemasan per produk
- Sesuaikan dengan harga jual
- Pilih vendor yang bisa cetak custom sesuai kebutuhan
- Pertimbangkan cetak bertahap (tidak harus banyak)
Dari pengalaman, banyak UMKM tumbang bukan karena produk tidak laku, tapi karena biaya operasional tidak terkendali, termasuk kemasan.
7. Pilih Vendor Cetak Kemasan yang Bisa Diajak Diskusi
Vendor kemasan bukan sekadar tempat cetak. Vendor yang baik akan:
- Memberi saran bahan
- Menyesuaikan dengan jenis makanan
- Membantu dari sisi teknis
- Jujur soal kelebihan dan kekurangan
UMKM sangat terbantu jika vendor memahami:
- Skala usaha
- Budget realistis
- Target pasar
Hubungan jangka panjang dengan vendor yang tepat sering kali menjadi kunci konsistensi kualitas kemasan.
8. Pertimbangkan Tren Kemasan Ramah Lingkungan
Kesadaran konsumen terhadap lingkungan semakin meningkat. Tanpa harus mahal, UMKM bisa mulai dengan:
- Menggunakan kertas food grade
- Mengurangi plastik berlebihan
- Memberi edukasi kecil di kemasan
Ini bukan sekadar tren, tapi nilai tambah brand di mata konsumen modern.
9. Uji Kemasan Sebelum Produksi Besar
Sebelum mencetak ribuan kemasan, lakukan:
- Uji coba penyimpanan
- Simulasi pengiriman
- Tes reaksi konsumen
Kesalahan kecil di awal bisa menjadi kerugian besar jika langsung produksi massal.
10. Ingat: Kemasan adalah Investasi, Bukan Beban
Banyak UMKM melihat kemasan sebagai biaya. Padahal kemasan yang tepat:
- Meningkatkan nilai jual
- Memperkuat brand
- Meningkatkan kepercayaan
- Membantu repeat order
Dari pengalaman saya, UMKM yang serius di kemasan biasanya lebih cepat naik kelas dibanding yang mengabaikannya.
Memilih kemasan untuk UMKM makanan bukan soal ikut-ikutan atau sekadar murah. Ini adalah keputusan strategis yang memengaruhi penjualan, kepercayaan, dan keberlanjutan usaha.
Dengan memahami produk, memilih material yang tepat, desain yang jelas, dan vendor yang kompeten, UMKM bisa menjadikan kemasan sebagai alat pemasaran paling efektif—bahkan sebelum konsumen mencicipi produknya.
Jika Anda pelaku UMKM makanan, mulailah melihat kemasan bukan sebagai pembungkus, tapi sebagai wajah usaha Anda.
Disunting oleh: S. Reja
Terakhir disunting: Desember 25, 2025














