Amanah Langit di Balik Akad Penghulu Kabupaten Tangerang

Santika Reja

rings, wedding ring, engagement, wedding, marriage, gold, jewelry, married, bridal, symbol, shiny, rings, wedding ring, wedding ring, wedding ring, wedding ring, engagement, engagement, engagement, engagement, engagement, wedding, marriage, marriage, marriage, jewelry, jewelry
Ilustrasi pernikahan. Foto: Pexels/Servetphotograph

NEWS TNG– Pagi itu, aula Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tangerang beraroma wangi dupa dan kopi tubruk. Di deretan kursi depan, belasan penghulu berseragam rapi duduk tegap, sebagian menunduk lirih membaca doa. Di panggung, Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid berdiri di belakang podium, suaranya tenang tapi berisi.
“Penghulu bukan hanya pencatat akad, tapi penjaga moral umat,” ucapnya, menggetarkan ruangan yang hening sesaat.

Suasana pengukuhan Pengurus Cabang Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Kabupaten Tangerang periode 2024–2028 itu terasa lebih dari sekadar seremoni. Ada nuansa spiritual sekaligus tanggung jawab yang menggantung di udara—sebuah peringatan halus bahwa tugas seorang penghulu tak berhenti di meja akad.


Amanah di Balik Akad

“Selamat kepada mereka yang dikukuhkan hari ini. Semoga amanah ini dijalankan dengan keikhlasan dan tanggung jawab,” ujar Bupati Maesyal Rasyid, masih dengan nada teduhnya.
Bagi sebagian orang, penghulu sering kali hanya sosok yang datang di hari bahagia: memimpin ijab kabul, menuliskan nama di buku nikah, lalu mengucap doa. Namun bagi mereka sendiri, tugas itu jauh lebih kompleks.

Mereka hadir di titik-titik rapuh kehidupan masyarakat: ketika dua keluarga bersatu, ketika ada perceraian, ketika sengketa waris mengemuka. “Kami ini seperti penjahit,” kata Ahmad Sanusi, salah satu penghulu muda yang baru dilantik. “Kalau benangnya tidak kuat, kain keluarga bisa robek kapan saja.”

Peran yang disorot Bupati bukan basa-basi. Dalam pandangannya, penghulu menjadi fondasi ketahanan sosial dan spiritual bangsa—bagian dari garda depan pembentukan keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.


Lebih dari Sekadar Pencatat

Kabupaten Tangerang kini dihuni lebih dari 3 juta jiwa dengan ribuan pernikahan tiap tahunnya. Di balik angka itu, para penghulu menjadi saksi bisu perjalanan spiritual masyarakat.
“Kadang, kami datang ke pelosok kampung dengan jalan berlumpur, hanya untuk memastikan akad sah dan berkas lengkap,” cerita Ustaz Rahmat, penghulu asal Kecamatan Tigaraksa. “Tapi semua lelah itu hilang waktu melihat dua orang bersyukur setelah dinikahkan secara resmi.”

Bupati menegaskan pentingnya peran APRI untuk mempererat ukhuwah antarprofesi dan meningkatkan kapasitas penghulu dalam melayani masyarakat. “APRI harus menjadi wadah belajar, berdiskusi, dan berinovasi. Jangan hanya formalitas organisasi,” tegasnya.


Ruang Sunyi di Tengah Bising Dunia

Namun, di tengah perubahan zaman dan derasnya arus digital, penghulu menghadapi tantangan baru. Kasus pernikahan dini, dispensasi usia, hingga maraknya pernikahan siri digital menjadi persoalan yang menuntut kepekaan moral.
“Sekarang banyak yang menikah instan, bahkan lewat aplikasi,” keluh Ahmad. “Kadang mereka lupa, pernikahan bukan sekadar dokumen atau seremonial, tapi perjanjian suci.”

Karena itu, kehadiran APRI bukan hanya memperkuat administratif, melainkan juga moralitas. Ia menjadi tempat bertukar pengalaman, saling menguatkan di tengah tekanan sosial yang semakin kompleks.
“Kalau penghulu goyah, yang rapuh bukan cuma keluarga, tapi masyarakatnya,” ujar Bupati Maesyal menutup sambutannya.


Menjaga Api Keikhlasan

Di akhir acara, semua berdiri untuk doa bersama. Suara “amin” menggema, menutup pagi yang khidmat. Di sudut ruangan, beberapa penghulu terlihat menatap sertifikat yang baru diterima—bukan sebagai kebanggaan, melainkan pengingat akan beban amanah.

Kabupaten Tangerang dikenal dengan laju pembangunan pesatnya: gedung menjulang, kawasan industri tumbuh, dan urbanisasi yang tak berhenti. Tapi di sela gemuruh itu, para penghulu berdiri sebagai penjaga nilai, memastikan bahwa keluarga-keluarga muda tak kehilangan arah di tengah modernitas.

“Menjadi penghulu itu bukan profesi biasa,” kata Ustaz Rahmat sebelum meninggalkan aula. “Kami bekerja di antara doa dan realita.”


Refleksi: Antara Doa dan Tanda Tangan

Sore mulai merayap di luar jendela Aula MUI ketika acara usai. Cahaya jingga menimpa papan nama bertuliskan Asosiasi Penghulu Republik Indonesia.
Di sanalah, di balik tumpukan dokumen dan catatan pernikahan, hidup sekelompok orang yang menjaga makna paling dasar dari hidup bersama: keikhlasan.
Dan di Kabupaten Tangerang—yang semakin modern tapi tetap religius—amanah itu masih dipegang dengan tangan yang bersih dan hati yang sabar.

Disunting oleh: S. Reja

Terakhir disunting: November 4, 2025

Komentar Pembaca

pos terkait