Menjemput Transportasi Publik: Mimpi Baru dari Poris ke Puri

Santika Reja

A stunning aerial view of an urban cityscape at sunset with vibrant skies and dense housing.
Ilustrasi tata kota. Foto: Pexels/Tom Fisk

NEWS TNG– Pagi di Poris Plawad terasa sibuk. Suara klakson bersahutan di simpang Terminal Poris, bersaing dengan deru bus antarkota yang baru berangkat. Di kejauhan, seorang petugas berseragam oranye menatap lahan kosong di dekat Stasiun Batuceper—lokasi yang dalam waktu dekat digadang jadi titik awal perubahan besar: Park and Ride, fasilitas yang diharapkan mengubah cara warga Tangerang bepergian.


Kota yang Ingin Berubah

Gagasan itu bukan sekadar proyek infrastruktur biasa. Pemerintah Kota Tangerang tengah bersiap menata wajah kotanya agar lebih ramah bagi pejalan kaki dan pengguna transportasi umum. Konsepnya disebut Transit Oriented Development (TOD)—kawasan yang menekankan integrasi antar moda transportasi dengan akses publik yang efisien.

Di bawah koordinasi Dinas Perhubungan, dua titik strategis menjadi fokus utama: Poris Plawad dan Puri Beta. Keduanya dianggap simpul penting bagi warga yang setiap hari berangkat menuju Jakarta atau sebaliknya.
“Fasilitas parkir yang aman dan nyaman diharapkan bisa membuat warga meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih ke transportasi publik,” ujar Achmad Suhaely, Kepala Dishub Kota Tangerang, Jumat (31/10).

Fasilitas itu akan menghubungkan Stasiun Batuceper dan Terminal Poris Plawad di sisi barat, serta Halte Puri Beta dan Halte CBD Ciledug di sisi timur—dua gerbang utama keluar-masuk Tangerang ke kawasan DKI Jakarta.


Antara Antusiasme dan Skeptisisme Warga

Namun, perubahan perilaku tak semudah membangun gedung parkir. Di media sosial, sebagian warga menanggapinya dengan rasa penasaran bercampur cemas.
“Bagus sih kalau beneran jalan, tapi nanti parkirnya jangan mahal,” tulis seorang pengguna X (Twitter).

Ada juga yang mengeluhkan akses jalan sekitar yang masih semrawut dan rawan macet, khawatir proyek ini hanya menambah keramaian baru.
Bagi Suryanto, sopir ojek daring yang sering mangkal di sekitar Poris, rencana itu ibarat dua sisi mata uang.
“Kalau makin ramai, order bisa nambah. Tapi kalau nanti kendaraan pribadi dibatasi, takutnya malah sepi,” ujarnya sambil menarik napas panjang.

Kekhawatiran semacam ini menunjukkan bahwa transformasi menuju budaya transportasi publik membutuhkan lebih dari sekadar beton dan aspal—ia butuh waktu, kepercayaan, dan konsistensi.


Data, Peta, dan Ambisi Transportasi

Konsep TOD sebenarnya sudah lama digaungkan di kawasan Jabodetabek, terutama oleh Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ). Tangerang menjadi salah satu kota satelit dengan mobilitas harian tinggi—lebih dari 60 persen warganya bekerja di luar kota, sebagian besar ke Jakarta dan Tangerang Selatan.

Kepadatan di jalur penghubung seperti Jalan Daan Mogot dan Ciledug Raya membuat urgensi proyek ini makin nyata. Karena itu, Pemkot Tangerang juga mengusulkan perpanjangan rute TransJabodetabek (Transjakarta) dari Kalideres menuju Terminal Poris Plawad.
“Langkah ini bisa memperkuat konektivitas dan mengurangi kepadatan di ruas utama,” jelas Suhaely.

Jika berjalan lancar, integrasi ini bisa menjadi pintu masuk bagi sistem transportasi yang lebih berkelanjutan—menyatukan stasiun, halte, dan terminal dalam satu jaringan efisien yang memudahkan pergerakan warga kota.


Wajah Manusia di Balik Proyek TOD

Di seberang Terminal Poris, Ana (27), karyawan swasta yang setiap hari menumpang KRL ke Jakarta, punya harapan sederhana.
“Kalau ada parkir aman buat motor, saya nggak perlu nebeng suami lagi ke stasiun,” ujarnya sambil tertawa.

Selama ini, Ana menitipkan motornya di rumah tetangga dengan bayaran Rp10 ribu per hari. Ia tahu biaya itu kecil, tapi repot jika pemilik rumah sedang pergi. “Kalau ada tempat resmi, ya enak. Tinggal parkir, naik KRL, pulang sore tinggal ambil lagi,” katanya.

Sementara di kawasan Puri Beta, Ranto, pedagang kaki lima, melihat peluang lain. “Kalau nanti banyak yang transit, bisa ramai lagi. Sekarang sepi, orang lebih milih lewat tol,” ujarnya sembari mengipas sate di atas bara arang.

Dua cerita sederhana ini menggambarkan wajah lain dari proyek TOD: di balik kebijakan besar, selalu ada warga kecil yang berharap ikut tumbuh bersama perubahan.


Sebuah Kota yang Sedang Menyusun Irama Baru

Sore itu, langit Tangerang berubah jingga. Di antara lalu lintas Poris yang masih padat, imajinasi tentang kota yang terhubung dengan rapi terasa seperti bayangan masa depan yang belum sepenuhnya tergambar.

Park and Ride mungkin baru sebatas rencana, tapi di baliknya tersimpan ambisi besar—mengubah kebiasaan warga, menata ulang ritme kota, dan menjadikan Tangerang bukan sekadar tempat singgah, melainkan ruang hidup yang lebih efisien dan manusiawi.

Seperti perjalanan panjang menuju stasiun berikutnya, revolusi transportasi ini mungkin dimulai dari satu langkah kecil: sebuah tempat parkir yang bisa dipercaya.

Disunting oleh: S. Reja

Terakhir disunting: November 3, 2025

Komentar Pembaca

pos terkait