Wabah Campak di Tangsel: Alarm dari Balik Ruam Merah

Santika Reja

Campak Rubella Pada Anak
Ilustrasi campak pada anak. Foto: Depositphoto

NEWS TNG– Di ruang tunggu Puskesmas Pamulang, seorang ibu muda tampak menenangkan anaknya yang rewel. Wajah bocah itu memerah, matanya berair, dan sesekali batuk kecil terdengar memecah kesunyian. Di tangannya, selembar hasil pemeriksaan bertuliskan: positif campak.
“Padahal baru dua minggu lalu demamnya turun,” ucap sang ibu pelan. Ia menatap ke arah petugas medis yang masih sibuk memanggil antrean lain. Di luar, hujan rintik turun, tapi ruang tunggu itu justru terasa pengap oleh cemas yang menebal.

Di kota dengan hiruk pikuk mal dan kafe baru yang tak pernah sepi, cerita tentang penyakit lama seperti campak seolah tak lagi relevan. Tapi nyatanya, di Tangerang Selatan, virus itu kembali mengetuk pintu—diam-diam, tapi pasti.


Gelombang yang Tak Terlihat

Hingga akhir Oktober 2025, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang Selatan mencatat 66 anak positif campak dan 9 anak positif rubella. Angkanya mungkin tampak kecil dibanding populasi, tapi di baliknya tersembunyi 538 kasus suspek—anak-anak dengan gejala serupa yang tengah menunggu kepastian diagnosis.

“Allin Hendalin Mahdaniar,” ujar seseorang di kantor Dinkes, memperkenalkan sosok kepala dinas yang kini harus berpacu dengan waktu. Ia tak bicara dengan nada panik, tapi suaranya membawa urgensi.
“Campak sangat menular. Hampir semua anak yang belum memiliki kekebalan bisa tertular kalau terpapar,” ujarnya.

Allin menjelaskan, sebagian besar pasien adalah anak usia 1–4 tahun yang belum mendapat imunisasi lengkap. Di usia itulah, tubuh mereka masih belajar membentuk pertahanan. Dan ketika satu anak terinfeksi, rantai penularan bisa menjalar cepat—dari ruang tamu ke taman bermain, dari kelas PAUD ke rumah tetangga.


Dari Batuk Menjadi Bahaya

Campak, atau morbili, bukan sekadar ruam di kulit. Virus RNA dari genus Morbillivirus ini menular lewat udara, terutama di lingkungan padat dengan cakupan imunisasi rendah. Ia menyebar lewat bersin, batuk, bahkan percakapan jarak dekat.

“Anak-anak bisa sembuh tanpa pengobatan khusus,” kata Allin. “Tapi bagi balita dengan gizi buruk atau kekurangan vitamin A, risiko komplikasinya besar: dari diare, pneumonia, hingga kebutaan.”
Beberapa kasus berat bahkan bisa berujung pada ensefalitis, infeksi otak yang jarang tapi mematikan.

Pernyataan itu seperti mengingatkan kembali: penyakit yang dulu dianggap usang ini masih punya taring.


Imunisasi yang Terlupakan

Di tengah maraknya kampanye kesehatan digital dan gaya hidup “clean living”, imunisasi dasar sering luput dari perhatian. Beberapa orang tua di Tangsel, terutama di wilayah pinggiran seperti Setu dan Pondok Aren, mengaku kesulitan mengakses informasi atau takut dengan isu hoaks soal vaksin.

“Waktu itu katanya vaksin bikin panas tinggi, jadi saya tunda dulu,” ujar Rina, ibu dua anak di Ciputat. Ia menyesal sekarang, setelah anak bungsunya demam tinggi dan muncul ruam merah di leher.

Pemerintah Kota Tangsel kini berusaha mengejar ketertinggalan. Program imunisasi MR (Measles Rubella) digencarkan kembali, bersamaan dengan sosialisasi dari rumah ke rumah. “Pencegahan jauh lebih baik daripada pengobatan,” tegas Allin. “Imunisasi adalah langkah nyata dan efektif untuk melindungi anak-anak kita.”


Di Balik Data dan Respons Cepat

Meski angka ratusan kasus terdengar mengkhawatirkan, Tangsel sebenarnya termasuk kota dengan kesiapan fasilitas kesehatan cukup baik. Dinkes memperkuat surveilans, menyiapkan pelacakan kasus, dan memastikan rumah sakit rujukan siap menampung pasien komplikasi.
Namun di lapangan, kerja cepat tak selalu mudah.
“Kadang ada warga yang menolak didata, takut dikarantina,” kata salah satu petugas puskesmas di Serpong Utara. “Padahal kami hanya ingin memastikan tidak ada penyebaran lebih luas.”

Di media sosial, warganet membagikan pengalaman dan kekhawatiran. Ada yang menulis, “Anak tetangga kena campak, sekolah tetap buka.” Yang lain membalas, “Jangan panik, tapi jangan cuek juga.”
Di antara komentar dan saran itu, terselip satu pesan sederhana: peduli.


Anak-Anak dan Ketakutan yang Sunyi

Bagi anak-anak, penyakit seperti campak bukan sekadar catatan medis. Ia datang dalam bentuk larangan bermain di luar, tidur panjang di rumah sakit, atau bekas luka halus di pipi yang tak mudah hilang.
Nadia, siswi TK di Pondok Jagung, baru saja pulih setelah seminggu demam dan ruam. “Aku kangen sekolah,” katanya sambil menggambar bintang di kertas putih. Di matanya, penyakit bukan wabah global—melainkan jeda kecil dalam hidup yang cerah.


Pelajaran dari Sebuah Wabah

Setiap kali virus seperti campak kembali, ia membawa pesan sederhana tapi tegas: bahwa kesehatan anak bukan perkara pribadi, melainkan tanggung jawab bersama.
Allin menutup pesannya dengan kalimat yang sama berulang kali ia sampaikan di setiap kesempatan:
“Segera imunisasi. Jangan tunggu anak sakit.”

Sore itu, hujan berhenti. Di luar Puskesmas, aroma tanah basah bercampur dengan udara lega dari beberapa orang tua yang keluar sambil tersenyum kecil—mungkin karena anak mereka negatif, mungkin karena hari itu mereka memutuskan satu hal penting: tak menunda vaksin lagi.

Di kota yang terus tumbuh dengan gedung-gedung baru dan ambisi besar, pelindung paling dasar bagi masa depan ternyata masih sama: setetes vaksin di lengan kecil seorang anak.

Disunting oleh: S. Reja

Terakhir disunting: November 3, 2025

Komentar Pembaca

pos terkait